Top
Begin typing your search above and press return to search.

Fenomena penelitian trauma kekerasan KDRT lintas generasi 

Banyaknya berbagai macam temuan kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang terjadi pada kehidupan sehari-hari mulai dari keluarga hingga lingkungan sekitar menarik perhatian Dhea Benazir Moza Kurniawan untuk melakukan penelitian dalam tesis Pasca Sarjana (S2). 

Fenomena penelitian trauma kekerasan KDRT lintas generasi 
X
Sumber foto: Eko Sulestyono/elshinta.com.

Elshinta.com - Banyaknya berbagai macam temuan kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang terjadi pada kehidupan sehari-hari mulai dari keluarga hingga lingkungan sekitar menarik perhatian Dhea Benazir Moza Kurniawan untuk melakukan penelitian dalam tesis Pasca Sarjana (S2).

Sebagai informasi, Dhea diketahui merupakan seorang mahasiswa Magister Psikologis Klinis Universitas Surabaya.. Ia sebelumnya juga menyelesaikan pendidikan Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana.

Berdasarkan penelitiannya, ia menyimpulkan bahwa kekerasan yang terjadi sehari-hari sampai saat ini ternyata berhubungan dengan fenomena trauma kekerasan sebelumnya yaitu lintas generasi (generational trauma).

Ia menemukan banyaknya fenomena kasus-kasus trauma relasional yang dialami individu dewasa akibat tumbuh dalam keluarga dengan pola asuhan otoriter.

Hal itu tertuang dalam tesis nya yang berjudul The Effect of Cognitive Analytic Therapy as an Intervention for Anxiety in Individuals Who Are Victims of Domestic Violence.

Pernyataan tersebut disampaikan Dhea Benazir Moza Kurniawan dalam paparannya pada acara forum International Mini Conference bertajuk The Inaugural Meeting of The BRICS+ Psy Union di Kuta, Kabupaten Badung, Bali , pada Kamis, 21 Agustus 2025.

"Kekerasan itu konsepnya disini bukan hanya pasangan, tetapi juga anak yang tumbuh dari orang tua atau keluarga besar yang keras. Kekerasan itu tidak hanya terbatas pada fisik, tapi juga psikologis,” kata Dhea Benazir Moza Kurniawan, Jumat (22/8).

Ia mencontohkan, misalnya ketika ada seorang anak terlambat sedikit saat disuruh membantu orang tua mereka, namun justru anak tersebut mendapatkan perlakuan (Feedback) yang keras.

“Itu (kekerasan) bisa membentuk pola (trauma) yang dapat terbawa mereka sampai dewasa," tegasnya.

Menurutnya, banyak orang kesulitan menjelaskan sesuatu karena sejak kecil tidak dibiasakan diberi ruang untuk beralasan ketika salah. Nanti pada saat mereka dewasa, ketika sedang ada masalah, justru mereka lebih memilih pergi daripada berkomunikasi.

“Ya karena mereka terbiasa melihat orang yang sedang marah, maka mereka lalu pergi begitu saja,” terangnya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Eko Sulestyono, Jumat (22/8).

Dalam penelitiannya, ia juga menguji Cognitive Analytic Therapy (CAT) sebagai intervensi. Menurutnya CAT relevan karena menggabungkan pendekatan cognitive dari CBT dan psychodynamic.

Ia menegaskan bahwa yang membedakan dengan CAT adalah ketika ia menarik garis kesimpulan: kenapa pemikirannya seperti itu, lalu ditarik ke kejadian sebelumnya yang memicu pola itu.

“Dalam kasus yang saya riset, itu trauma. Roset ini penting bagi masyarakat Indonesia dalam menghadapi malasah dalam diri,” paparnya.

Ia menyadari bahwa kasus-kasus kekerasan dalam kehidupan sehari-hari mungkin memang tidak akan pernah putus atau berakhir. Namun ia optimis bahwa masayarakat makin sadar tentang kebutuhannya dan makin tahu caranya membangun komunikasi yang baik.

“Kalau kita tidak belajar menghadapi masalah dalam diri, yang kena bukan hanya kita, tapi juga orang sekitar,” terangnya.

Dari sisi psikologi forensik, Moza melihat penelitiannya berhubungan dengan fenomena trauma lintas generasi atau generational trauma.

"Bukan hanya orang tua ke anak, tapi anak pun bisa bereaksi kepada orang tua dengan cara yang keras, karena itu yang mereka tahu,” tambahnya.

“Dari atas dapatnya begitu, akhirnya turun ke bawah begitu. Lewat riset ini saya ingin masyarakat paham, bahwa tidak ada kata terlambat untuk belajar jadi manusia yang lebih baik," lanjutnya.

Sementara itu dalam kesempatan yang sama, Ketua Pengurus Pusat HIMPSI, Henndy Ginting berpendaoat bahwa hasil pemerintah Cognitive Analytic Therapy kedepannya berpotensi menjadi modul baru dalam menangani kasus kecemasan

“CAT berbeda dengan Cognitive Behavior Therapy (CBT, red) yang biasa kita lakukan. Di sini ada formula 3R yang menarik. Pasien dipandu mereformulasi kembali apa yang dia cemaskan,” kata Henndy Ginting.

Menurutnya, kecemasan itu biasanya muncul karena seseorang terlalu berlebihan dalam mengantisipasi sesuatu yang belum tentu terjadi dan bahkan sesuatu itu justru tidak pernah terjadi.

“Pasien bisa menyadari, ternyata ancaman itu tidak sebesar yang dia pikirkan, sehingga kecemasan bisa berkurang. Dengan CAT, pikiran itu dianalisis sejauh mana memang ancaman nyata atau hanya persepsi,” pungkasnya.

Sumber : Radio Elshinta

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire